Senin, 07 Oktober 2013

Masa Kesukaran Segera Tiba

{[[''],['']]}

akhir zaman
Masa kesusahan yang semakin menghebat sampai kesudahan, sudah sangat dekat. Tidak ada waktu yang boleh disia-siakan. Dunia digerakan oleh roh peperangan. Nubuatan Daniel pasal 11 hampir mencapai kegenapannya. -- RH, 24 Nov. 1904.                                                                                             Masa kesusahan -- kesusahan mana tidak pernah terjadi sejak terbentuk suatu bangsa (Dan. 12:1) -- sedang menimpa kita, dan kita sama seperti anak - anak dara yang tertidur. Kita harus bangun dan memohon kepada Tuhan Yesus agar dilindungi-Nya  kita di bawah kapak-Nya yang abadi, dan membawa kita melewati masa pencobaan yang ada di depan kita. -- 3 MR 305 (1906).



Dunia semakin ingkar akan hukum. Tidak lama lagi kesusahan besar akan timbul di antara bangsa - bangsa, yakni kesusahan yang tidak akan berhenti sampai Yesus datang. -- RH, 11 Febr. 1904.




Kita berada di tepi masa kesusahan itu, dan kekacauan yang jarang diimpikan sedang berada di hadapan kita. -- 9T 43 (1909). 

  Kita sedang berada di pelataran krisis segala zaman. Dengan cepat penghakiman Allah akan berlangsung secara satu demi satu, yaitu api, banjir, dan gempa bumi, dengan peperangan dan pertumpahan darah. -- PK 278 (c. 1914)

     Ada masa keributan di hadapan kita, tetapi janganlah kita mencetuskan satu kata ketidakpercayaan atau kekecewaan. -- ChS 136 (1905).

-Sumber : "Peristiwa - Peristiwa Akhir Zaman"
Bab.1  "Krisis Dunia Yang Terakhir" Hal. 2.-

Kekhawatiran yang Meluas tentang Masa Depan

{[[''],['']]}
Masa sekarang adalah saat yang paling menarik bagi semua yang hidup. Para penguasa dan negarawan, orang - orang yang menduduki jabatan kepercayaan dan wewenang, cendekiawan dan cendikiawati dan segala lapisan, semuanya memusatkan perhatian kepada peristiwa - peristiwa yang sedang berlangsung di sekitar kita. Mereka sedang mengamati hubungan antar bangsa. Mereka memperhatikan intensitas yang mempengaruhi setiap unsur alami, dan mereka menyadari bahwa sesuatu yang besar dan menentukan segera terjadi -- yaitu dunia sedang berada di tepi suatu kemelut yang menakjubkan. --PK 537 (c. 1914)

Bencana di darat dan laut, keadaan masyarakat yang tidak stabil, tanda bahaya peperangan, semuanya memberi isyarat. Malapetaka - malapetaka ini meramalkan peristiwa luar biasa yang segera terjadi. Kaki tangan setan sedang bersatu mengerahkan kekuatan. Semuanya memastikan krisis dahsyat yang terakhir itu. Perubahan besar segera terjadi di bumi kita ini, dan gerakan - gerakan terakhir akan sangat cepat berlangsung. -- 9T 11 (1909).


sumber : "Peristiwa - Peristiwa Akhir Zaman"

Bab.1"Krisis Dunia Yang Terakhir".

Sabtu, 31 Agustus 2013

Bersyukur

{[[''],['']]}

Lukas 17:15, 16, 18“Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?”


“Pak, ayo donk ke sini! Kapan bapak sama keluarga bisa ke sini, saya sisa dua minggu lagi tinggal di hotel ini. Kalo sampe akhir bulan ini bapak gak ke sini, sayang banget fasilitas ini, mumpung gratis!” Berkali-kali Ferdy menelepon saya hanya untuk meminta supaya kami sekeluarga mengambil waktu berlibur menggunakan fasilitas hotel gratis yang diberikan perusahaan yang baru tempat dia bekerja yang ditempuh dengan waktu kurang lebih selama dua setengah jam lamanya dari pusat kota Jakarta.
Berkali-kali pula saya belum memberikan jadwal yang pasti untuk memenuhi permintaannya. “Iya, ntar pasti saya atur ke sana sama istri dan anak-anak”, jawabku selalu kepadanya tatkala ia menelepon kembali. Ferdy adalah salah seorang tim kerja di perusahaan tempat saya bekerja sekitar dua tahun yang lalu. Menurut analisa saya, ada potensi yang positif dalam diri Ferdy dan pantas untuk dikembangkan. Potensi ini saya arahkan dengan mempromosikan Ferdy ke salah satu tanggung jawab pekerjaan yang cenderung orang lain inginkan untuk duduki. Potensi dan kejujuran Ferdy meyakinkan diri saya untuk memindahkan dia menangani bagian Pembelian di perusahaan, alhasil prestasi kerjanya pun tepat seperti analisa saya. Kini ia memiliki kesempatan bekerja dengan jabatan yang meningkat di perusahaan pertambangan minyak dengan kompensasi yang seimbang. Rasa syukur dan sukacitanya mendapatkan pekerjaan yang baik ini mengingatkannya kepada saya yang telah membinanya beberapa tahun yang lalu.
Ferdy seperti salah satu dari sepuluh orang kusta yang mendapatkan kesembuhan dari Yesus. Orang Samaria, yang dianggap orang yang tidak mengenal Kristus dan seolah-olah tidak ada kebaikan di dalam diri mereka, ternyata hanya ialah seorang diri yang kembali kepada Yesus dan bersyukur mengingat segala kebaikan orang lain. Sudahkah kita memeriksa diri kita hari ini, adakah kita adalah golongan satu orang Samaria yang tahu berterima kasih dan bersyukur kepada Yesus atas semua kebaikan-Nya atau adakah kita bagian dari Sembilan orang kusta lainnya yang hanya mengerti untuk meminta berkat dari-Nya namun melupakan semua berkat dan kebaikan Tuhan itu bagi diri-Nya sehingga tidak mau bersyukur. Allah merindukan kita menjadi orang yang tahu untuk bersyukur dengan menghitung berkat-berkat yang telah kita terima dari-Nya sepanjang hidup kita. Rasa syukur oleh karena mengenang kebaikan orang lain terlebih Allah kita, adalah merupakan bukti kerendahan hati kita kepada Allah. Marilah kita bersyukur kepada Allah setiap saat dalam hidup kita.

Nyolot Amat!

{[[''],['']]}

Mazmur 29:23, “Keangkuhan merendahkan orang, tetapi orang yang rendah hati, menerima pujian.”


“Siapa yang suruh kamu masukin mobil ke sini?” ucap pengelola rumah kontrakan. “Lihat! Keramik teras akhirnya sampai rusak! Apa yang saya harus sampaikan kepada yang punya kontrakan?”, bentaknya kepada sang pengontrak melanjutkan. “Saya tidak perlu minta ijin sama kamu, karena dulu juga ada yang masukin mobil ke sini. Lagian, saya ini orang tua, tidak pantas kamu bicara seperti itu kepada saya!” ucap sang pengontrak dengan emosi. Perdebatan antar pengurus dan penghuni kontrakan pun berlangsung bahkan akhirnya hingga melebar. Perang adu mulut pun berlangsung beberapa saat. Kata-kata kasar pun terdengar silih berganti diantara perdebatan mereka.

Keributan ini terjadi dikarenakan salah satu penghuni kontrakan memasukkan mobil untuk mengangkut barang mereka tanpa sepengetahuan pengurus kontrakan yang saat itu sedang keluar menjemput anaknya pulang sekolah.  Pengurus kontrakan juga langsung terbawa emosi karena melihat kejadian yang ada gantinya ia menanyakan kepada sang pengontrak dengan nada datar dan memperhatikan tata krama bicara ia langsung bertanya demikian yang akhirnya mengundang kejengkelan satu dengan yang lain. Tanpa disadari oleh sang pengurus kontrakan, pertanyaan dan nada bertanya yang berbeda segera menimbulkan kericuhan.

Hal sepele sering kali menimbulkan pertengkaran di antara manusia. Seringkali kita lupa bahwa dibalik semua hal yang kita lakukan membawa kepada suatu kondisi yang tidak terkendali dan mengakibatkan timbulnya dosa.  Di pihak yang satu merasa benar karena dia diberi tanggung jawab oleh pemilik kontrakan untuk mengawasi dan memperhatikan kontrakan tersebut. Di pihak yang lain karena merasa lebih tua dan pernah dulu melihat ada mobil yang masuk juga merasa benar. Ketika kita sampai di posisi ini kita masing-masing merasa benar dan di saat itulah ego kita masing-masing menempatkan diri di depan.  Mari kita lihat ayat di atas. Ketika kita mau saling merendahkan hati, niscaya kita akan menerima pujian.

Ketika Ia Mengucapkan Permohonan Itu...

{[[''],['']]}


Yosua 10 : 14 : Belum pernah ada hari seperti itu, baik dahulu maupun kemudian, bahwa TUHAN mendengarkan permohonan seorang manusia secara demikian, sebab yang berperang untuk orang Israel ialah TUHAN.
Tidak berbeda dengan pagi lainnya, ketika anak-anak kami libur sekolah, sesaat sebelum mereka membuka siaran televisi, seperti biasanya kami mengawali dengan mengadakan mezbah keluarga. Menjadi pemimpin acara dan membaca renungan pagi secara bergantian adalah hal yang sangat menyenangkan bagi mereka. Terkadang anak kami yang paling kecilpun walau belum dapat membaca, seringkali meminta saya untuk membantu dia agar terlihat seolah-olah dia sudah dapat membaca sendiri. Saat itu biasanya kami akan tertawa kecil melihat tingkah polahnya, membuat kedua kakaknya tidak dapat menahan tawa mereka sambil sesekali saling melempar senyum atau bersenggolan tangan.
Pagi itu, ketika anak saya yang tertua meminta dia menyampaikan doa tutup, hal yang selalu dia minta dilibatkan dalam setiap mezbah keluarga, dia menyampaikan kata-kata dalam doanya yang kami sebagai orang tua tidak pernah mengajari sebelumnya. Di dalam doanya : "Tuhan, tolong berkati mami yang akan di interview hari ini". Saya dan suami cukup terperangah saat doa selesai di sampaikan. Kedua kakaknya segera memberondong dia dengan beberapa pertanyaan, "Kamu tahu arti Interview?", anak bungsu kami menjawab, "Tidak" sambil tertawa. Kakaknya yang satu lagi bertanya, "Kamu di suruh mami atau papi?", dia juga menjawab "Tidak".
Bukan tanpa kebetulan, hari itu saya berkesempatan untuk mengikuti satu sesi interview. Seperti biasanya, kami menyampaikan permohonan itu dalam pokok doa kami setiap hari, dan pagi itu anak kami mengulangi ucapan tersebut kembali setelah kami berulang kali mengucapkannya dalam doa-doa kami. Hari itu Roh Kudus telah menggunakan anak kami yang paling kecil untuk menyampaikan permohonan dan harapannya di dalam doanya pagi itu. Saya meninggalkan rumah dengan penuh sukacita merasakan bahwa Tuhan pasti akan mendengar dan menjawab doa seorang anak kecil, walaupun terkadang mereka tidak mengerti apa yang mereka telah sampaikan. Dan benar, Tuhan telah menjawab doa anak kami.
Tuhan sanggup mengerti akan hal tersulit yang tidak dapat terselami secara pikiran manusia. Dia sanggup mengubahkan sesuatu yang pada awalnya terlihat demikian kotor dan buruk menjadi sesuatu yang bersih dan tampak baik, dia sanggup mengendalikan hal terumit yang menurut pemandangan manusia menjadi penghalang kehidupan seseorang, dan mengubahnya menjadi sebuah langkah awal untuk kehidupan yang lebih baik. Dia sanggup, Dia sanggup..Mari kita sampaikan permohonan kita hanya kepadaNya, dan lihatlah ...Dia yang melakukannya untuk kita, Dia yang akan berperang melawan musuh kita. Dia yang akan memenangkan kita dari segala pencobaan duniawi, karena Dia adalah sumber dari segala sesuatu di atas bumi ini. Terpujilah nama Tuhan.

Selidikilah Kehendak-Nya!

{[[''],['']]}


Yohanes 14:15, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.”




Rasa kantuk sudah tak tertahankan. Ingin rasanya segera memejamkan mata dan tidur untuk beristirahat dari segala kelelahan sepanjang hari bahkan sepanjang satu minggu yang menuntut saya harus bekerja lebih lama di kantor. Sudah selama lima malam berturut-turut saya terlambat untuk beranjak ke tempat tidur namun saya tetap harus bangun di pagi hari. Baru saja saya memeriksa dan mengunci pintu rumah, mematikan lampu dan bersiap hendak menaiki tangga rumah untuk tidur, tiba-tiba terdengar bunyi “tok … tok … tok. Halo kawan, apa sudah tidur?” Suara itu jelas terdengar di telinga saya dengan menggunakan bahasa daerah kami.

Penasaran siapa gerangan yang datang berkunjung pada malam hari seperti ini, saya berbalik arah menuruni tangga rumah menuju ke pintu rumah bagian depan. Saya mengintip dari gordyn rumah apakah benar ada orang yang mengetuk pintu gerbang rumah kami dan ternyata benar ada orang yang datang. “Hei … aku pikir siapa yang datang malam-malam begini, ternyata kalian”, tegurku sambil mempersilahkan mereka masuk rumah. Ia adalah teman sekelas saya ketika SMA, ditemani oleh istrinya dan seorang sahabat mereka. “Apa udah langsung mau tidur jam setengah Sembilan malam begini?” tanya Maruba, sahabat SMA-ku. “Aku pas lagi mau ke kamar untuk tidur karna besok pagi harus ke gereja”, jawabku. Sambil mempersilahkan mereka duduk, perbincangan kami pada malam itu pun akhirnya berkisar pada masalah kepercayaan yang saya anut. Ia menyaksikan berbagai hal mengenai kepercayaan yang saya anut dan menyatakan kekagumannya kepada para penganut kepercayaan yang sama dengan saya.

Banyak hal yang kami diskusikan serta banyak hal pula yang ia tanyakan. Intinya, kataku “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Mari kita sama-sama menyelidiki apa perintah Allah dan berdoa agar dapat melakukannya atas pertolongan Roh Kudus. Tanyakan diri kita masing-masing apakah kita sesungguhnya sedang menuruti perintah Allah atau sebaliknya menuruti perintah manusia”, komentarku lebih jauh. Malam itu mereka kembali dari rumah saya dengan membawa sebuah buku yang saya anjurkan untuk mereka baca. Semoga melalui persahabatan kita dengan orang lain memberikan satu teladan positif yang akan membawa orang lain dekat dengan Allah.

Hal Kecil Yang Membawa Kebaikan

{[[''],['']]}

Mazmur 107: 8“Biarlah mereka bersyukur kepada TUHAN karena kasih setia-Nya, karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia.”



Sudah hampir 5 tahun kami menggunakan sebuah meja setrika kecil yang terletak disudut ruangan dekat dengan kamar mandi dan tempat pakaian. Tinginya kira-kira selutut orang dewasa. Biasanya meja ini digunakan oleh istri saya untuk menyetrika pakaian seragam sekolah anak2, pakaian kerja kami dan pakaian lainnya. Bahkan tak jarang digunakan juga oleh anak2 kami untuk sekedar bermain dan duduk disana. Setiap hari selalu saja ada yang disetrika. Dua tahun terakhir, Kami tidak memiliki pembantu rumah tangga sehingga Kami sendiri yang selalu menggunakannya terutama istri saya.
Suatu malam setelah selesai mandi, anak sulung kami tidak dengan sengaja mendudukinya hingga kondisinya patah pada salah satu sisinya sehingga meja yang awalnya berdiri tegak dengan permukaan alas yang datar dan rata, kini miring ke satu sisi dan tidak seimbang bahkan bergoyang-goyang. Tiba saat dimana meja itu akan digunakan untuk menggosok beberapa potong pakaian. Setrika sudah dinyalakan seperti biasanya hingga mulai panas dan siap untuk menyetrika. “Kenapa meja ini terasa lain ya?” tanyanya dalam hati, sambil lebih membungkuk lagi karena posisi lebih rendah dari biasanya. Lama ia rasakan ketidak nyamanan dengan posisi tersebut, hingga ia bertanya pada saya “mengapa meja ini jadi begitu rendah dan bergoyang2?, tidak nyaman lagipula punggung menjadi terasa sakit.” Ia kemudian meminta saya untuk memperbaikinya.
Selesai saya memperbaikinya, “nah gitu dong, kenapa ngga dari kemarin2, sampe sudah bungkuk-bungkuk begini selama ini. Ternyata ini juga salah satu penyebab kenapa punggung saya terasa sakit, demikian istri saya. Sekarang Jadi terasa lebih enak dan tidak perlu membungkuk lagi yah,” tambahnya. Karena posisinya jadi lebih tinggi sekitar seukuran pinggang orang dewasa. “Terima kasih ya sudah memperbaikinya. Thanks GOD” ia menambahkan. Saya pun turut mencoba dan merasakan ada perbedaan dari kondisi lama (rusak) dengan keadaan sekarang setelah selesai diperbaiki, jauh lebih baik dan lebih nyaman menggunakannya. Jika meja ini tidak rusak malam itu dan kondisinya tetap seperti semula, bisa dibayangkan mendapat penyakit apa kami dikemudian hari.
Sesuatu yang tidak pernah Kita sadari sebelumnya sering terjadi dalam kehidupan Kita setiap hari, hal-hal kecil yang Kita lakukan berulang setiap hari, terkadang membuat Kita merasa telah sesuai dan nyaman dengan keadaan Kita, ternyata ada sesuatu dibalik itu yang tidak pernah Kita sadari hingga sesuatu terjadi dan kemudian Kita sadar bahwa apa yang telah Kita lakukan selama ini belumlah selalu baik dan benar, bahkan nyaman bagi keadaan dan kehidupan Kita. Bersyukur kepada Tuhan karena IA telah menyadarkan Kami untuk mengingat akan hal-hal kecil yang patut untuk Kami syukuri. Sahabat, tengoklah disekeliling Kita, Apakah itu keadaan dirumah atau dikantor, apakah benda ataukah kebiasaan dari anak-anak bahkan diri Kita sendiri. jika Kita melakukan sesuatu yang terus menerus, dan berulang. Mungkin Kita perlu untuk menata ulang atau menggantinya dengan yang baru agar Kita mendapatkan kenyamanan dilingkungan Kita sendiri. Sehingga Kita dapat mengucap syukur oleh karena berkat Tuhan bagi Kita. Tuhan Kiranya memberkati Kita, Amin.

Emosi? Awas Jangan Jadi Malu!

{[[''],['']]}


1 Korintus 11:28,“Hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu.”


“Tingtong...”, blackberry saya berbunyi menandakan ada sebuah pesan yang masuk. “Busyet!!! Gaji gue di potong lagi...” Seorang karyawan kesal karena tunjangannya kembali dipotong bulan ini. Karyawan ini sangat kesal sekali karena dia merasa tidak dihargai padahal menurut pemandangannya, dia adalah karyawan yang sangat loyal kepada perusahaan. “Hai kawan, aku udah baca smsmu, besok deh kita ketemuan, biar leluasa kita diskusikan mengenai isi smsmu.
Keesokan harinya pun saya menemuinya dan bicara dari hati ke hati. Dari puluhan karyawan yang ada hanya dia yang keberatan akan masalah ini. “Kamu udah baca belum surat edaran yang diterbitkan oleh perusahaan mengenai pemotongan gaji tersebut, bukan hanya kamu yang dipotong tapi semua karyawan”, tanyaku kepadanya untuk memastikan apakah dia mengetahui surat edaran yang telah diterbitkan. Singkat cerita, sang karyawan ternyata tidak membaca Surat Edaran yang dikirimkan kepada semua karyawan mengenai ketentuan baru tersebut secara baik. “Aduh …. Sorry banget kalo gitu. Jujur aku belum baca surat edaran itu. Gua kirain hanya gaji gua doang yang dipotong”, akunya kepadaku. Akhirnya dia pun merasa malu sendiri.
Seringkali dalam kehidupan kita, jika ada sesuatu hal yang tidak baik terjadi dalam kehidupan kita, segera kita terpancing untuk lebih mengedepankan emosi. Mencoba mencari kambing hitam, bahkan kadang kita sering menyalahkan Allah dan menuduh Dia tidak berbuat adil kepada kita. Kita sering mengklaim diri kita sudah berbuat benar dan setia tapi ternyata kalau diteliti dengan baik, kita sering melakukan kecerobohan-kecerobohan yang merugikan diri sendiri. Namun gantinya kita mengintrospeksi diri kita justru mencari kambing hitam untuk membuat diri kita selalu benar. Jadi jika ada hal yang kurang sesuai dalam hidup kita, mari kita instrospeksi diri kita gantinya kita mencari kambing hitam atau menyalahkan orang lain.

Aduh! Sakit!

{[[''],['']]}

Mazmur 6:3,“Kasihanilah aku, Tuhan, sebab aku merana; sembuhkanlah aku, Tuhan, sebab tulang-tulangku gemetar.”

“Hari ini jangan pulang malam dong, barusan sampai rumah aku nyuci piring, sakit lagi leherku …. Saakiiit buanget!” Pesan bbm ini saya terima dari isteri saya ketika jam makan siang sedang berlangsung. Memang sudah hampir dua bulan lamanya saya menghabiskan waktu lebih panjang di kantor. Namun hal ini semata-mata karena tuntutan pekerjaan yang harus terselesaikan dalam jangka waktu yang sangat terbatas. Kerapkali saya tiba di rumah, jarum jam sedang menunjuk di angka 10 pada malam hari.
Atas keluhan yang sama diceritakan kepada saya sehari sebelumnya, saya telah menjadwalkan istri saya untuk mengikuti therapy dokter. Tepat jam 9 di pagi hari sebelum jam makan siang tiba pada hari yang sama, istri saya baru saja menjalani therapy dokter di lokasi praktek yang berseberangan gedung dengan pusat perbelanjaan Pondok Indah Mal. “Gimana Mom setelah therapy, baikan rasa sakit di, otot leher?” tanyaku sesaat setelah istri saya selesai menjalani therapy. “Iya, udah lebih ringan pergerakan otot leher sekarang”, jawab istri saya lewat telepon. Sore itu, saya pun pulang dari kantor tepat waktu. Rasa penasaran muncul mengingat pembicaraan di pagi hari melalui telepon setelah menjalani therapy, istri saya merasakan agak baikan, kok sekarang mengeluh sakit lagi?
Sesampainya di rumah pada sore hari, saya segera mengajak istri ke dokter. Pemeriksaan demi pemeriksaan bahkan suntikan obat pun diberikan sebagai tindakan untuk mengatasi kondisi penyakit istri saya. Hari-hari berikutnya, istri saya pun merasakan jauh lebih sehat dari beberapa hari sebelumnya. Banyak rahasia hidup ini yang tidak kita ketahui bahkan terhadap peristiwa yang menimpa diri kita sendiri. Kebingungan demi kebingungan muncul silih berganti dengan kepastian hidup yang kita rasakan. Harapan hidup satu-satunya adalah memohon pengasihan dan pertolongan Allah memberikan kesembuhan jasmani bahkan rohani kita yang mungkin mengalami penyakit penurunan kadar iman kita kepada-Nya. Kita akan menikmati pertolongan-Nya sama seperti Raja Daud mendapatkan pertolongan yang sama dari Allah ketika ia datang untuk meminta tolong. Marilah kita hampir kepada-Nya hari ini bahkan setiap hari dalam hidup kita.

Main Futsal Yuk..!!!

{[[''],['']]}


Yosua 21:45 “Dari segala yang baik yang dijanjikan TUHAN kepada kaum Israel, tidak ada yang tidak dipenuhi; semuanya terpenuhi” 







“Mama, siang ini aku mau main futsal dengan teman-teman ya. Wah, sepertinya bakal seru nih nanti !” anakku yang nomor dua berkata di pagi itu dengan wajah ceria. Anakku ini memang senang sekali bermain bola. “Abang mau main futsal dimana dan lawannya siapa sih ? Sepertinya abang senang sekali kali ini…,” tanyaku sambil mengantarnya ke depan gerbang rumah. “Itu loh ma, teman-temanku di sekolah yang lama ajak kita main. Katanya mereka kangen mau main futsal sama aku lagi..., sekalian mau coba kekuatan aku dan teman-teman yang baru kayanya. Hehehe…,” celoteh si abang dengan tawanya yang khas. “Abang sudah pastikan lagi sama mereka?” tanyaku sebelum dia pergi. “Tenang saja ma. Kemarin lewat twittermereka bilang pasti jadi mainnya. Pagi ini aku pastikan lagi ke mereka deh! Yang penting nanti siang mama jangan terlambat jemput aku ya. Dag mama…!” Mobil yang membawa si abang dan si kakak melaju pergi.

Lima belas menit sebelum pukul 2:00 siang, saya sudah tiba di sekolah mereka. “Mama !” si abang bergegas menghampiriku setelah bel sekolah berbunyi. “Aku sudah pastikan lagi tadi lewat sms. Katanya mereka sudah enggak sabar nunggu aku datang. Ayo, kita pulang sekarang ma! Teman-temanku juga ikut di mobil kita,” seru si abang sambil mengajak teman-temannya masuk ke mobil. Sepanjang perjalanan mereka begitu ceria dan saling bertukar canda. Tak terasa saya tiba di rumah, sementara si abang dan teman-temannya pergi ke lapangan futsal yang tidak jauh dari rumah. Tiga puluh menit berlalu. “Loh, abang kok sudah pulang ? Cepat sekali mainnya…,” sambutku sambil terheran-heran. “Main futsalnya dibatalkan ma…,” sahutnya pelan dengan wajah yang terlihat kecewa. “Bukannya mereka sudah pastikan lagi tadi pagi?” tanyaku lagi belum mengerti. “Iya ma. Tadi pagi itu sudah yang kesekian kali mereka pastikan. Tapi, waktu aku sampai di sana tadi, mereka bilang batal. Katanya mendadak ada pelajaran tambahan yang harus mereka ikuti. Aku jadi enggak enak ma sama teman-teman yang aku ajak tadi,” sahut si abang, masih dengan raut kecewa. Saya mencoba untuk menghiburnya.

Ayat inti dalam Roti Pagi ini memberi harapan bahwa janji-janji Tuhan yang baik itu semuanya terpenuhi. Janji harus ditepati. Itulah yang diharapkan oleh setiap manusia. Acap kali janji diucapkan dengan harapan akan dapat dipenuhi. Namun janji dan rencana manusia dapat gagal. Gagal karena sesuatu yang tidak diduga. Gagal dipenuhi karena ada hal yang di luar kendali yang mengucapkan janji. Manusia bisa gagal memenuhi janjinya. Orang yang menerima janji, bisa jadi akan kecewa. Tetapi berbeda dengan Tuhan kita. Dia tidak pernah gagal. Janji yang diucapkanNya, pasti akan Dia penuhi. Dia tidak akan mengecewakan kita. Di dalam alkitab ada banyak janji Tuhan bagi kita. Peganglah salah satu janjiNya bagi anda hari ini. Dan lihatlah, bagaimana Tuhan akan memenuhi janji itu kepada anda hari ini. Let us stand on His promises that never fail ! 

Tak Sadar

{[[''],['']]}
Efesus 4:2 “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.”




“Teng..! Teng..! Teng..!! Teng…!!” Itu suara besi yang dipukulkan ke tiang listrik oleh petugas penjaga malam di samping rumah.  Bunyinya selalu bisa membangunkan saya.  Bergegas saya bangkit dari tempat tidur.   “Harap datang ke kantor kami pukul 7.30 pagi,” isi surat panggilan yang dikirim ke e-mail suami saya kemarin.  “Kita harus tepat waktu ma, kalau tidak malah merepotkan nantinya,” kata suami saya tadi malam.  Usai kebaktian keluarga, kami berangkat pergi.  Tiba di tujuan 30 menit sebelum waktu yang ditentukan.  Setelah melalui serangkaian pemeriksaan akhirnya kami dipersilahkan untuk  menunggu.   Satu, dua…, bahkan tiga jam berlalu dari waktu yang dijadwalkan, tetapi  nama kami belum juga dipanggil.  “Waduh!  Kok tidak seperti waktu yang dijanjikan ya ma?” wajah dan suara suamiku mulai terlihat  resah. 

“Maaf pak, saya bisa bicara dengan bapak ini?” tanya saya kepada petugas satpam sambil menunjukkan  nama yang mengirim surat panggilan. Dia menunjuk ke satu loket dimana seorang bapak berusia 50-an tengah memilah-milah dokumen. “Oh,  ibu harus menunggu sampai semua yang diinterview hari ini selesai karena permohonan ibu kan sifatnya khusus,” suara petugas visa itu dengan wajah dingin. “Tapi kenapa kami diminta datang pagi kalau memang jadwalnya baru siang nanti, pak?” tanya saya, tidak puas dengan jawabannya. Dia tidak memberi jawaban dan terus asyik dengan tumpukan dokumen.  Tiba-tiba pundak saya disentuh dari samping.  Saya menoleh ke sebelah.  Dua orang wanita asing tersenyum ke saya. “Ibu, jangan kecewa.  Jangan kesal…,  kita harus sabar.   Tidak ada cara lain. Kita harus tunggu saja,” kata salah satu dari mereka sambil mengangguk dan terus tersenyum ramah. “Eh…,  kok ibu fasih sekali berbahasa Indonesia ?” tanya saya terpesona. “ Betul, itu karena kami sudah 48 tahun tinggal di Kalimantan, kami berdua adalah perawat misionaris,” jelas mereka menjawab keheranan saya.  Setelah itu banyak hal yang kami bicarakan.  Tanpa terasa sudah pukul 3 lewat 10 menit.   Akhirnya nama kami dipanggil untuk menyelesaikan proses pengurusan visa.

Ayat inti Roti Pagi kali ini mengingatkan kita agar selalu rendah hati, lembah lembut dan sabar.  Memiliki kesabaran memang tidaklah mudah. Kita terbiasa dipacu oleh waktu.  Saat kita terdesak oleh waktu, ditunggu oleh aktifitas yang lain atau harus  menyelesaikan tugas yang bertumpuk, kita tergoda untuk tidak sabar.  Sikap tidak sabar boleh jadi akan mudah meluap bila kita berhadapan dengan orang yang justru dekat sekali dengan hati kita.  Bersabar artinya kita bisa menerima kegagalan orang lain. Bersabar artinya kita tahu bahwa kita juga tidak luput dari berbuat gagal.  Hari ini, mari kita memulai kesabaran dari hal yang sederhana,  entah itu di rumah, di kantor, di jalan atau dimana saja. Banyak hal yang baik menanti anda, bila anda bersabar.  Berdoalah, Tuhan akan membantu anda.  Have a great day !

Bersinarlah Lilin Kecil

{[[''],['']]}
Matius 5 : 16 “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapa-mu yang di sorga.”



Pagi itu saya terbangun.  Baru jam 5 pagi.  Saya lihat di luar hujan masih terus turun.  Sudah dua hari kami di kota ini, tapi cuaca belum bersahabat juga.   Dinginnya begitu menggigit tubuh.   Pagi ini terasa kurang sempurna.   Ini hari kedua putra pertama berpisah dengan kami.   Dia masuk asrama untuk ikut pelatihan sepakbola di klub yang menjadi idolanya.  Sejak masuk Sekolah Dasar dia gemar sekali bermain bola dan bermimpi satu kali akan masuk ke sekolah sepakbola ini.  Impiannya terwujud saat ini.   “Tut… tut…!!”  bunyisms terdengar jelas karena suasana kamar sepi, ditambah lagi tempat kami menginap begitu tenang.   “Mama, tadi malam aku latihan bola sampai jam 9 malam ! Dingin banget ma !  Kata pelatihku suhu di luar 5 derajat celcius.  Kaki aku keram ma… Tapi sekarang sudah baik kok.  Nanti  jam 6 sore kita boleh teleponan.   Mama, papa, ingat  telepon aku ya.  Love u all !”  tulisnya di layar telepon.   Aah..., seandainya saja kami tinggal berdekatan  ingin rasanya saya segera berlari menemuinya untuk memastikan keadaannya.

Sms dari abang ya ma?” tanya suamiku.  Rupanya dia jadi terbangun.  “ Iya, kasihan si abang. Dia  kedinginan…” jawabku  sambil menunjukkan isi pesan tadi.  “Mudah-mudahan abang kuat ya pa, karena dia masih lama sekolah di situ,” lanjut saya khawatir.  “Dia pasti kuat ma, apalagi ini kan yang dia idam-idamkan sejak lama,” suami saya memberi kekuatan.  Hari-hari berikutnya, silih berganti berita kami terima.  Maklumlah kami memang tidak diperbolehkan menjenguk ataupun menelepon dengan bebas.   Pesan singkat dari si abang masuk lagi ke handphone-ku.  “Mama, ternyata teman sekamarku tidak mengenal Tuhan.   Dia rasa aneh melihat aku baca Alkitab.   Waktu aku nyanyi lagu gereja, pertama-tama dia bilang mengganggu.  Eehhh…, hari berikutnya dia malah minta aku ajarin dia nyanyi lagu gereja.  Sekarang malahan dia tertarik sekali ingin tahu Tuhan itu seperti apa sih…  Teman-temanku yang lain di asrama senang kalau lihat aku baca renungan pagi dan malam.   Mereka ingin ikutan juga ma.  Lama-lama asyik juga ya ma ikut latihan sepakbola sambil menginjil …,” tulis si abang menutup sms-nya.

Ayat dalam Roti Pagi ini mengajak kita semua agar terang kita bercahaya di depan orang, agar mereka melihat perbuatan kita yang baik dan memuliakan Bapa di sorga.  Kita memiliki terang yang dapat kita bagikan dimana kita berada.  Kita tidak bisa menduga dalam keadaan apa atau dalam kondisi apa kita bisa menjadi saksi bagi Tuhan.  Kita mulai lewat diri kita, dengan melatih kebiasaan-kebiasaan yang baik  setiap hari dengan belajar firman Tuhan, bernyanyi memuji Dia, berdoa kepadaNya.  Kebiasaan baik ini akan berpengaruh kepada orang di sekitar kita.  Mari kita menjadi lilin kecil yang memancarkan terang di sekitar kita.  Anda dapat memulainya hari ini.  This little light of mine, I’m gonna let it shine ! Let it shine ! Let it shine !   

Menemukan Bahagia Sesungguhnya

{[[''],['']]}
Mazmur 139 : 4 “Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya Tuhan.”




Senangnya hati berada di antara pepohonan yang begitu rimbun, hijau dedaunan terlihat dimana-mana.  Sementara kuntum bunga tak sabar ingin menunjukkan keindahan warna-warninya. Saya lihat ke atas, wah langitnya biru sekali…! Tidak ada sedikitpun awan putih di atas sana. “Wow, indahnya ciptaan Tuhan…!” teriak saya tak sadar.  “Iihhh…, mama senang banget sihhh…!” suara si sulung menggoda saya. “Yaa, kakak jangan gitu dong… Mama kan  jadi malu nih ketahuan senangnya,”  Hari ini saatnya menonton pertandingan bola putra kami.  Dari kejauhan  saya melihat ada sepasang suami istri yang sedang sibuk bergaya, mereka berfoto-foto mengabadikan keindahan tempat ini.

Tak lama mereka mendekati kami. “Anak ibu ikut berlatih sepakbola di sini juga?” tanyanya dengan dialek Melayu yang kental.  “Oh iya, putra ibu juga kan?” balasku tersenyum.  “Betul bu.   Perkenalkan ini suami saya,” sambutnya seraya menoleh ke suaminya.  Sebaliknya sayapun memperkenalkan suami dan anak-anak. Suasana langsung terasa akrab.  “Wah, bahagianya bisa kemana-mana bersama ya,” suaranya terdengar bergetar.  “Ibu pasti yang paling bahagia dong…,” katanya lagi. “Hahaha…, bahagia itu berasal dari  Tuhan kan bu, karena Dia maha mengetahui.   Saya yakin ibu juga bahagia kok.  Ibu kan baik-baik saja dan berkesempatan menemani putra ibu di sini,” jawab saya. Suaminya mengangguk dan tersenyum setuju. Akhirnya tertawa kami pun lepas.   Sambil melihat anak-anak bermain bola kami terus berbagi cerita.  Saya jadi tahu bahwa  hatinya sedih melihat saya bersama semua anak-anak, sementara dia  jarang sekali berkumpul bersama.  Anak-anaknya lebih asyik dengan acara mereka sendiri.   Saya mencoba menghibur dia.  Sesekali saya selipkan perkataan Tuhan di dalam Alkitab.  “Saya senang sekali bisa berkenalan dengan ibu.  Pokoknya kalau saya ke Jakarta, kita musti bertemu ya bu.  Sebaliknya kalau ibu ke Kuala Lumpur, jangan menginap di hotel.   Menginaplah di rumah kami,” katanya dengan wajah ceria ketika kami bersalam-salaman karena harus berpisah.

Ayat dalam Roti Pagi ini mengingatkan Tuhan telah mengetahui semuanya isi hati kita, bahkan sebelum lidah kita mengeluarkan satu patah kata pun.  Mungkin saja saat ini kita sedang bingung, kecewa, bahkan mungkin mengalami sesuatu yang lebih menyakitkan dari itu.  Tuhan tahu isi hati kita, jauh di lubuk yang paling dalam.  Bahkan Tuhan jauh lebih mengerti  isi hati kita daripada kita sendiri.   Yang kita perlu lakukan adalah percaya penuh kepadaNya, bahwa Tuhan akan menolong kita untuk menemukan arti kebahagiaan yang sesungguhnya.  Tuhan adalah sumber kebahagiaan kita.  Happiness is to know the Saviour.  Happiness is the Lord !

Hidup Itu Seperti Uap

{[[''],['']]}

Yakobus 4 : 14 b “Hidupmu itu seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.”








Setelah tiga jam kami berada di dalam kereta cepat, akhirnya kami tiba di tempat ini.  Angin kencang disertai rintik hujan menyambut kedatangan kami.   Di kiri dan kanan saya lihat orang berjalan cepat.  Sulit bagi kita meniru gerak langkah mereka.  “Mama tahu kak, kenapa mereka jalannya cepat-cepat. Pasti supaya enggak kedinginan  kan ya, kak?”  kata saya kepada si sulung, yang hanya dibalas dengan senyuman.  Dari mulutnya yang bergetar, terlihat dia berusaha menahan dinginnya suhu sekitar 10 derajat celcius di kota ini.  Kami masuk ke dalam taksi yang membawa ke tempat penginapan.   Sepanjang perjalanan saya benar-benar menikmati pemandangan yang ada.  Rentetan rumah yang begitu teratur, serta bunga  beraneka warna memenuhi masing-masing halaman.   “Selamat datang di tempat ini…,” sapa seorang oma dengan senyum lebar  sambil merapikan pot bunga yang menghiasi ruangan menuju ke kamar kami.  “Terima kasih…,” sahut saya dan suami sambil membalas senyumya.  Terdengar nyanyian kecil oma itu yang menggema  di sepanjang ruangan yang kami lalui.  

“Mama,  sudah oma-oma kok dia masih bekerja sih?”  bisik si bungsu dengan heran.  “Nanti dek, kalau sudah akrab baru kita tanyain dia ya,” kata si sulung.  Saya mengerti mengapa si kecil terlihat kagum,  karena sepertinya usia ibu tadi  sudah di atas 70-an tapi masih terlihat sehat dan segar.  Keesokan harinya ketika akan sarapan pagi kembali kami bertemu dengannya.  “Selamat pagi, bisa tidur enak?”  si oma menyapa kami terlebih dahulu dengan senyum lebarnya yang khas.  “Terima kasih, ya kita semua tidur pulas tadi malam, walau sedikit kedinginan…,” jawab suami saya. “Enjoy your breakfast !” katanya sambil pergi dan memberi lambaian tangan kepada kami semua.  Selesai sarapan, kami menuju kamar.   Kembali kami bertemu dengannya.   “Oma, anda terlihat begitu cantik dan sehat… Berapa umur oma sekarang?” tanya saya sambil memeluk pundaknya.  “Saya sekarang sudah 78 tahun…,” jawabnya sambil tertawa.  Terlihat deretan giginya yang masih berjejer rapih.  “Wow!  Hebat sekali!  Apa sih rahasianya agar saya bisa seperti oma?” tanya saya sambil menatap wajahnya yang terus berseri.  “HIdup ini  singkat…, jadi gunakan setiap waktu untuk yang baik.  Tidak ada waktu untuk berdebat atau berbicara yang tidak perlu.  Hehehe… Kita harus tetap gembira, bersyukur kepada Tuhan dan nikmati saja yang ada,” katanya sambil menepuk pundak saya. “Sore ini saya sudah janjian dengan teman saya yang berusia 90 tahun untuk bermainbowling loh…,” katanya lagi sambil terkekeh-kekeh. Waduh ! Luar biasa aktifitasnya oma ini. Masih aktif bekerja,  benar-benar sehat dan selalu gembira di usia senja.

Ayat alkitab dalam Roti Pagi ini mengingatkan  bahwa hidup yang kita miliki begitu singkat, seperti uap yang hanya sebentar saja  kelihatan, lalu lenyap.   Manusia memiliki batas kehidupan di dunia ini.  Semua berjalan cepat dan singkat.  Tanpa kita sadari, kita acap mengisi hidup ini dengan hal yang tidak berguna.  Berdebat dan bertengkar, hanya menyisakan sakit hati pada orang lain.  Membicarakan yang tidak perlu, tidak menambah nilai dalam hidup.  Menyesali yang sudah lampau dan jarang bersyukur, juga tidak bermanfaat.   Bersyukurlah pada Tuhan setiap hari, bergembira dan mengisi hidup dengan hal yang bermanfaat bagi diri kita dan bagi orang lain. Hidup ini terlalu singkat untuk kita sia-siakan.  God is so good , He’s so good to me !

Bedakan Yang Palsu

{[[''],['']]}

Matius 7 : 15 “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.”






Sudah hampir pukul 10:00 malam.  Di luar sana terlihat matahari masih bersinar cukup terang di musim panas ini. Tapi suhu yang dingin membuat kami lebih nyaman berada di kamar.  “Mama, besok kita mampir ke museum patung lilin ya...  Katanya keren-keren loh patungnya.  Mirip sekali dengan aslinya !” celetuk si sulung malam itu.  “Iya ma, aku juga mau ke sana! Nanti aku mau difoto sama…hmmm…sama siapa ya? Rahasia deh…” canda si abang pada kakak dan adiknya. Mereka asyik membayangkan apa yang akan mereka temui di museum besok.  “Sudah, sekarang kalian tidur cepat. Kita akan ke sana besok ya…” suami saya mengajak mereka renungan malam sebelum tidur.  Kami tiba di museum agak sore.  Tetapi antrian orang yang ingin masuk masih sangat panjang.  “Wah, masih panjang antriannya ya pa!” seru si kecil sambil sesekali melihat ujung antrian.   Kami masuk ke museum 45 menit kemudian.

“Wow! Ini kan penyanyi lagu yang aku senangi.  Aku mau dong difoto sama dia!” si kakak dan adiknya segera menghambur ke sebelah patung itu, siap bergaya untuk difoto.  “Mama, lihat deh yang ini! Aku sudah lama mau ketemu sama dia loh… !” si abang tersenyum ceria melihat patung  pemain sepak bola yang masih menjadi idolanya.  Dia mengamat-amati dengan seksama.  “Wah, ternyata dia lebih tinggi dari aku ya! Hehehe…” katanya lagi sambil memegangi patung itu dan mengaguminya.  “Papa, cepat ke sini ! Ini kan patung ilmuwan yang pintar itu ! Wow! Mirip sekali ya pa. Kumisnya, rambut putihnya dan cara dia tersenyum itu pas banget!” seru si adek tidak sabar mau menunjukkan.  “Mereka yang bikin patung ini pintar sekali ya.  Sulit kita membedakan dengan yang aslinya!” decak kagum pengunjung yang lain terdengar di sisi kami.

Ayat Roti Pagi di hari yang indah ini mengingatkan kita agar waspada terhadap nabi-nabi palsu yang datang menyamar seperti domba, tetapi mereka sesungguhnya adalah serigala buas.  Di jaman ini, setan berusaha keras untuk mengelabui dan menjatuhkan pengikut Tuhan.  Penipuan besar akan dibuat di hadapan kita. Setan akan melakukan pekerjaan yang mengherankan dan menakjubkan manusia. Begitu miripnya pemalsuan itu dengan aslinya, sehingga  mustahil untuk membedakannya kecuali kita memiliki alatnya, yaitu Alkitab.  Alkitab dapat digunakan untuk menguji antara yang palsu dan yang asli.  Amaran Tuhan dengan jelas akan menuntun kita untuk memahami kebenaran yang sesungguhnya.  Mari kita bertekun membaca Alkitab.  Selidiki dan renungkan ayat-ayat di dalamnya setiap hari.  Agar kita tidak tertipu dan tetap berdiri teguh hingga Yesus datang. Jesus is coming soon...Morning or night or noon...! Have a blessed Sabbath !

Selidiki Dan Keluarkanlah

{[[''],['']]}
Mazmur 139:23 “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku”





Setelah sekian lama kami meninggalkan rumah, kini saatnya kami pulang.   “Adek, ayo temanin abang! Kita keluar sebentar menghirup udara segar tanpa polusi untuk yang terakhir nih, hahaha…!” kata si abang sambil menarik tangan si kecil.   Tersenyum kami melihat tingkah pola mereka berdua di halaman bandar udara.   “Ayo nak, sudah waktunya kita harus masuk ke dalam…,” kata saya memanggil mereka.   Sebenarnya suasana hati saya tidak terlalu nyaman saat ini karena si sulung sedang demam.  “Kak, kuatin badannya ya nak… Nanti kalau mereka lihat kakak sakit kita tidak diperbolehkan berangkat…,” bisik saya memberi semangat.  Kamipun berjalan menuju area pemeriksaan dokumen.  Pertama-tama kami disambut petugas dengan peringatan untuk tidak membawa barang yang bersifat cairan. “Ibu, pastikan di dalam tas tidak ada air, lotion, parfum, lipgloss atau cairan apa saja!” suaranya lumayan terdengar keras.   Sambil terus melakukan tugas, mereka memeriksa tas jinjing semua penumpang.  “Okay, clear!” katanya setelah selesai memeriksa kami berlima. Kami jalan ke ruangan berikut.  Saya pikir semua proses sudah selesai.
 
Ternyata dari kejauhan  saya melihat kira-kira ada tujuh orang petugas berjejer rapi memegang kantong plastik dan kembali berbicara.  “Segala macam bawaan yang berbentuk cairan mohon jangan dimasukkan ke dalam tas.   Jika ada obat gosok, lotion, parfum, lipgloss atau cairan lain silahkan masukkan ke dalam plastik ini!” katanya kali ini sambil memberikan satu persatu plastik kepada semua calon penumpang.  “Waduh pa, gimana ini?  Masih ada minyak telon di dalam tas.  Aku sengaja bawa buat mengurut si kakak, siapa tahu bisa membantu dia…,” bisik saya kepada suami.  “Mama masukkan saja ke dalam plastik itu dan serahkan kepada  mereka.  Minyak telon itu tidak akan disita.  Kalau mereka tahu fungsinya, nanti mereka bisa kasih kelonggoran dan dikembalikan lagi kepada kita.  Alat pemeriksaan mereka ini sensitif dengan benda cair,”  saran suami saya.  Saya keluarkan minyak telon tersebut dan menyerahkannya kepada petugas.    Benar saja apa yang dikatakan suami saya, beberapa orang penumpang kelihatannya mencoba untuk mengabaikan pemberitahuan petugas.  Ketika melewati mesin pemindai, maka alarm berbunyi keras.  Aneka ragam bawaan mereka yang bersifat cairan akhirnya diminta untuk ditinggalkan di tempat.  Yang lebih tidak  mengenakkan hati adalah masing-masing orang yang melanggar peraturan harus menunggu giliran untuk diproses.   Perlu waktu lebih lama sebelum bisa naik ke pesawat. 

Ayat inti Roti Pagi hari ini mengajak kita untuk meminta Tuhan agar menyelidiki dan mengenali hati kita, juga mengenali pikiran kita.  Kita memiliki tujuan untuk tiba di kerajaan surga.  Hidup kita di dunia saat ini sama seperti proses persiapan keberangkatan tadi.  Kita perlu melewati pemeriksaan hati dan pikiran.   agar bisa masuk ke surga.  Pikiran dan hati kita harus selaras dengan kehendak Allah.  Kita tidak tahu apakah hati dan pikiran kita sudah sesuai dengan kehendak Allah.   Untuk itu kita perlu meminta kepada Tuhan untuk menyelidiki hati dan pikiran kita.  Di hati dan pikiran kita boleh jadi ada  hal-hal tersembunyi yang kita cintai atau kesenangan pribadi  yang kita kasihi, yang tidak dapat kita bawa ke dalam surga.  Bisa jadi hal itu tersembunyi dan kita tidak sadari.  Setiap hari, kita minta Tuhan untuk menyelidiki, membukakan kepada kita dan menolong kita untuk mengeluarkan itu semua dari dalam “koper” hati dan pikiran kita, agar tidak ada yang menghalangi perjalanan kita ke surga.  Kita akan tiba di tujuan akhir dengan selamat.  Search me, oh Lord…and know my heart today !  If you find anything that shouldn’t be… take it out and strengthen me.

Jangan Cepat Kecewa Dan Putus Asa !

{[[''],['']]}


Amsal 24:16, ”Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana.”




Sudah pasti kita semua pernah membaca dan mendengar istilah: ”Kegagalan adalah Kesuksesan atau Keberhasilan yang tertunda.” Kalau ada orang yang belum pernah sama sekali membuat kesalahan berarti orang tersebut adalah orang yang belum pernah membuat sesuatu apapun. Seorang yang bernama Thomas Alva Edison adalah seorang yang banyak melakukan penelitian-penelitian dan penemuan-penemuan yang penting dari berbagai percobaan ilmiah sendiri, seringkali ia disebut orang jenius, tetapi ada pernyataan yang pernah dikatakannya mengenai dirinya sendiri, ”Jenius, oh tidak!, kalau penelitian dan penemuan yang langsung berhasil, itu baru dinamakan jenius. Karena saya juga seringkali gagal dalam menuju sukses.”

Bilamana kita mempunyai suatu bentuk kerangka pikiran yang benar, sebuah kesalahan bisa berubah menjadi kebetulan yang berhasil dan menguntungkan. Seperti pengalamanku sewaktu masih duduk di bangku SD kelas 5. Ada tugas dari sekolah untuk membuat lampion supaya boleh ikut karnaval di malam hari pada tanggal 17 Agustus. Aku membuat sebuah lampion bintang yang dilapisi dengan kertas minyak berwarna merah dan ditaruh sebuah lilin yang dijunjung dengan sebuah tiang bambu, karena semangatnya jadi pekerjaan ini aku lakukan sendiri dengan ditemani lampu sumbu minyak tanah hingga tengah malam, sehingga ayah dan ibuku menegornya, ”Hei nak jangan sampai larut malam ya, ingat kesehatan, apalagi besok pagi-pagi harus pergi ke sekolah.” Lampion bintang itu pun jadi namun dengan posisi bintang yang terbalik, karena menghindari supaya lilin jangan sampai membakar kertas minyak tersebut. Dua kaki segi dari bintang tersebut menghadap ke atas dan satu kaki segi lainnya menghadap ke bawah lalu tersambung dengan sebuah tiang bambu. Hari yang dinantikan tiba, aku membawanya ke sekolah, tetapi punya aku agak aneh dan beda dengan milik teman-teman yang lain, sehingga aku ditertawai oleh teman-teman dan guru-guru. Akhirnya aku merasa malu, kecewa dan putus asa lalu segera bergegas dan berlari pulang ke rumah sambil menangis tersedu-sedu. Ayah dan ibuku coba menenangkan aku, akhirnya aku mengerti dan lampion bintang itu pun aku simpan di kamar. Beberapa bulan berselang ketika suasana Natal tiba, di kampung tempat kami tinggal ada sayembara membuat bintang Natal khusus untuk anak-anak yang duduk dibangku SD. Maka aku mengambil lampion bintang tersebut dari kamar, membuka tiang bambu dan lilinnya sehingga bentuk bintangnya menjadi sempurna dengan posisinya yang sebenarnya. Tiba pada hari pertandingan, maka lampion bintang yang aku buat mendapatkan juara pertama, sungguh membawa suatu kegembiraan dan kebahagiaan yang tak terlupakan.

Begitu juga sama halnya dengan kehidupan kita sebagai orang Kristen. Karena Allah itu ingin sekali kita bertumbuh di dalam kasih karunia-Nya, kita belum sampai, belum juga mendapatkan bayangan terhadap segala sesuatunya. Kita jatuh, jatuh, dan berulang-ulang jatuh lagi. Kadangkalanya kita menjatuhkan diri kita sendiri bukan secara phisik tetapi secara mental setelah menemui kegagalan. Tetapi Allah itu tetap memegang janji dan berjanji kepada kita, bahwa meskipun kita jatuh, jatuh dan berkali-kali jatuh sampai tujuh kali atau 77 kali, jangan putus asa dan kecewa, kita akan bangkit kembali. Allah menyambut kita dengan kasih karunia-Nya, mengangkat kita yang sudah jatuh terpuruk ke bawah dan membuat kita berjalan dengan lebih dewasa lagi, yang membuat kita lebih ingin belajar dan belajar dari kesalahan kita.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...